Kemarahan sering bermula dari kegilaan yang tak dapat dikendalilan dan kerap berakhir dengan penyesalan yang menyakitkan. Meluapkan kemarahan seakan bisa melegakan perasaan. Kenyataannya, justru seseorang kerap sadar saat kemarahan itu mereda: “Kenapa aku bisa seperti itu?”. Kemarahan memang membuat seseorang tampak “gila” dan akan membuatnya malu saat menyadari kegilaannya itu.
Sebab itulah Rasulullah mengatakan kepada sahabat yang meminta nasihat pada suatu saat, “La taghdhab.” Jangan marah. Nasihat tersebut menyiratkan agar para sahabat menyadari akibat buruk kemarahan _untuk diantisipasi. Sebab, akibat kemarahan hanya bisa dipahami jika seseorang tidak sedang dalam kondisi marah.
Namun, apakah setiap kemarahan itu buruk?
Buku berharga ini memaparkan hadis-hadis yang mengisahkan momen saat Rasulullah marah dan geram. Saat ia tidak menyukai sesuatu yang terjadi di lingkungan keluarga, para sahabat, atau masyarakat.
Apa saja yang membuat Rasulullah marah?
Kenapa sampai membuat Rasulullah marah?
Apa yang Rasulullah lakukan saat marah?
Kemarahan-kemarahan Rasulullah di buku ini menegaskan bahwa kemarahan yang terjadi pada saat tepat, di tempat tepat, dan dilakukan secara tepat bukanlah hal buruk. Malah kemarahan itu menjadi hal baik demi menghindarkan hal-hal buruk.

