Pengkajian kata Tamkin dibandingkan kata Empowerment atau Pemberdayaan bukan tanpa alasan. Kajian konsep tentang Tamkin (Pemberdayaan) di dalam buku ini berkesimpulan bahwa penggunaan kata Tamkin lebih tepat dan epistemik (wahat we know and how we know) dibandingkan kata Empowerment atau Pemberdayaan. Jika berhenti pada kerangka “what we know’ (definisi), kata Tamkin, Pemberdayaan dan Empowerment mungkin masih bisa dikaitkan satu sama lain. Namun jika ditingkatkan pada pertanyaan “how we know” (apa dan bagaimana melakukan pemberdayaan) dalam kerangka epistemologis, maka dua kata yang disebut terakhir lemah dari sisi kerangka paradigmatik-nya. Sementara kata Tamkin memiliki akar kata yang kuat dalam Al-Qur’an dan secara praktis dicontohkan oleh Rasulullah sang pembawa risalah melalui fase Mekkah dan fase Madinah. Apa itu Tamkin dan bagaimana cara kerja Tamkin itu memproses serta relevansinya dengan konsep Modal Sosial (Social Capitalis) dan Khoiru Ummah bisa “berguru” kepada Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah saw melalui buku ini yang dibahas dengan pendekatan akademis dan praktis.




